Orama Consultant

“Profesional, Trusted, Integrity, and Solution Oriented”

Present by
dr. Royyan Ashri, MKM

Ada satu hal yang sering hilang dalam kesibukan manajemen rumah sakit: kehadiran. Kita terseret rapat, laporan, perselisihan administratif, dokumen akreditasi, dan tumpukan masalah operasional. Lama-lama, jarak antara meja pimpinan dan realitas pelayanan sehari-hari menjadi semakin lebar.

Padahal, kualitas sebuah rumah sakit tidak ditentukan di ruang rapat—melainkan di IGD, rawat inap, ruang operasi, farmasi, atau farmasi lantai tempat keputusan kecil berdampak besar pada keselamatan pasien.

Dari kegelisahan itulah konsep Leadership Walkaround lahir.

Bukan Sekadar Berkeliling-Tapi Mendengar dengan Serius

Istilah Leadership WalkRounds pertama kali dikembangkan oleh Institute for Healthcare Improvement (IHI) sebagai upaya memperbaiki budaya keselamatan. Inti gagasannya sederhana: pemimpin harus kembali hadir, melihat langsung risiko, mendengar suara frontline tanpa filter, dan membangun budaya pelaporan yang aman.

Konsep ini menyebar ke seluruh dunia bukan karena tren, tetapi karena efektivitasnya. Banyak insiden besar ternyata dapat dicegah bila pemimpin mengetahui tanda-tanda kecil di lapangan lebih awal: near-miss yang tidak pernah ditulis, alat yang hampir habis, alur komunikasi yang tersendat, atau bahkan suasana emosional staf yang sedang berubah.

Walkaround memperkenalkan kembali sesuatu yang sangat manusiawi dalam organisasi: manajemen yang melihat, bukan hanya membaca; manajemen yang merasakan, bukan hanya mengira; manajemen yang hadir, bukan hanya memimpin dari jauh.

Mengapa Rumah Sakit Membutuhkannya?

Rumah sakit penuh dengan kompleksitas. Risiko tersembunyi ada di setiap sudut. Banyak staf menyimpan kekhawatiran karena: budaya segan, khawatir dianggap menyalahkan, laporan “disaring” oleh middle manager, atau takut dikaitkan dengan kesalahan.

Ketika pemimpin datang sendiri, dengan nada yang aman dan ingin memahami, ada hal yang berubah.

  • Frontline mulai bercerita.
  • Masalah kecil mulai tampak.
  • Kepercayaan mulai tumbuh.

Walkaround menjadi jembatan—menghubungkan visi manajemen dengan kenyataan klinis.

Bagi banyak rumah sakit, terutama tipe C atau D, walkaround sering menjadi titik balik. Tiba-tiba ada kejujuran baru, awareness baru, dan komitmen baru. Karena ternyata, kehadiran pemimpin mengingatkan semua orang bahwa keselamatan bukan slogan… tapi sikap.

Apakah Walkaround Selalu Efektif? Tidak.

Walkaround bisa menjadi kegiatan paling bermanfaat—atau paling membuang waktu—tergantung bagaimana dilakukan.

Yang membuat walkaround gagal adalah:

  • Pimpinan datang seperti inspeksi,
  • Tidak ada tindak lanjut,
  • Terlalu ramai seperti razia,
  • Dilakukan hanya saat akreditasi,
  • Staf tidak merasa aman berbicara,
  • Atau pimpinan hanya melihat fisik (kebersihan, kelengkapan), bukan risk mapping-nya.

Jadi walkaround bukan soal “berkeliling”, tetapi bagaimana Anda hadir.

  • Jika kehadiran pemimpin memberi rasa aman, walkaround menjadi ruang belajar kolektif.
  • Jika kehadiran pemimpin memberi rasa takut, walkaround menjadi formalitas tanpa manfaat.

Metode Lain Ada—Tapi Walkaround Tetap Fondasi

Memang benar, ada banyak metode lain:

  • Gemba Walk untuk efisiensi alur kerja,
  • Executive Huddles untuk update risiko harian,
  • Shadowing untuk melihat alur kerja secara mendalam,
  • Cultural Rounds untuk menilai kondisi psikologis organisasi.

Namun, tidak ada metode yang seefektif Walkaround untuk memupuk kepercayaan. Dan kepercayaan adalah mata uang utama dalam transformasi rumah sakit. Walkaround adalah sinyal bahwa pemimpin tidak terjebak di menara gading.

Pemimpin turun, hadir, dan peduli.

Bagaimana Walkaround Memberi Dampak Nyata

Walkaround yang dilakukan dengan tepat menciptakan efek berlapis:

1. Mengungkap risiko lebih cepat

Informasi yang tidak pernah masuk laporan formal tiba-tiba muncul saat pemimpin bertanya dengan cara yang benar.

2. Menumbuhkan keberanian staf untuk bersuara

Psychological safety meningkat, budaya menyalahkan mereda.

3. Memperbaiki hubungan lintas profesi

Perawat, dokter, farmasi, dan manajemen mulai satu suara karena melihat komitmen yang sama.

4. Menyederhanakan pengambilan keputusan

Ketika manajemen memahami realita, keputusan menjadi lebih tepat dan tidak terputus dari konteks.

5. Meningkatkan mutu pelayanan secara organik

Mutu tidak lagi dipaksakan dari atas; ia tumbuh dari percakapan yang jujur.

Lalu, Bagaimana Melakukan Walkaround yang Benar?

Kuncinya: hadir dengan niat memahami, bukan memeriksa.

Mulailah dengan tim kecil—dua atau tiga orang.

Fokuskan satu kunjungan pada satu isu: IGD, farmasi, ICU, rawat inap, atau kamar operasi.

Bicaralah dengan nada rendah, terbuka, dan tidak defensif.

Ajukan pertanyaan sederhana namun bermakna:

“Apa hal yang paling membuat Anda khawatir hari ini?”

“Ada near-miss yang sempat terjadi minggu ini?”

“Apa hambatan terbesar memberi pelayanan aman?”

“Apa bantuan kecil dari manajemen yang bisa memperbaiki situasi dengan cepat?”

Dengarkan lebih banyak daripada berbicara.

Catat temuan secara ringkas—tanpa menyalahkan.

Dan bagian paling penting: berikan umpan balik maksimal 7 hari.

Satu perbaikan kecil yang selesai cepat akan menciptakan gelombang perubahan besar.

Walkaround bukan soal jarak yang ditempuh, tetapi kedalaman percakapan yang tercipta.

Leadership Walkaround membuktikan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal keputusan, tetapi juga tentang kehadiran dan hubungan.

Rumah sakit adalah ekosistem emosional yang kompleks—dan pemimpin yang mau turun ke lapangan menunjukkan pesan kuat:

“Keselamatan adalah prioritas.

Saya ingin mendengar Anda.

Kita membangun ini bersama.”

Ketika walkaround dilakukan dengan hati dan strategi, rumah sakit tidak hanya lebih aman—tetapi juga lebih manusiawi. Budaya berubah. Kepercayaan tumbuh. Masalah terlihat lebih awal. Staf merasa dihargai. Dan pasien merasakan dampaknya.

Walkaround mungkin terlihat sederhana, namun ia bisa menjadi intervensi budaya paling kuat yang dimiliki sebuah rumah sakit.

Posted in

Leave a comment