Orama Consultant

“Profesional, Trusted, Integrity, and Solution Oriented”

Present by
dr. Royyan Ashri, MKM

Pendahuluan: Realita Masalah Mutu Rumah Sakit Hari Ini

Mutu rumah sakit sering kali terdengar ideal: aman, cepat, efektif, dan memuaskan pasien. Namun realita di lapangan menunjukkan bahwa mutu justru paling sering gagal di level operasional harian, bukan di level kebijakan.

Setiap hari, banyak rumah sakit menghadapi masalah seperti:

  • Keluhan pasien meningkat karena waktu tunggu panjang, edukasi yang tidak seragam, dan komunikasi yang tidak empatik.
  • Keterlambatan hasil laboratorium atau radiologi, membuat keputusan klinis tertunda.
  • Kesalahan pemberian obat yang sebagian besar terjadi karena proses yang tidak standar.
  • Dokumentasi berulang dan tidak sinkron, menyebabkan data tidak valid untuk pengambilan keputusan.
  • Komunikasi yang patah antar profesi, sehingga koordinasi layanan menjadi tidak efisien.

Ini adalah masalah nyata—bukan karena kurangnya teori mutu, tetapi karena sistem kerja dan budaya organisasi belum searah. Mutu gagal bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak konsisten dieksekusi.

Apa Itu Mutu Rumah Sakit?

Secara sederhana, mutu rumah sakit adalah:

“Kemampuan rumah sakit memberikan pelayanan yang aman, tepat, cepat, akurat, konsisten, dan membuat pasien merasa dipedulikan.”

Mutu bukan sekadar kelulusan akreditasi. Mutu adalah bagaimana pasien merasakan pelayanan dari IGD, rawat jalan, rawat inap, sampai kembali ke rumah.

  • Jika pelayanan aman dan tepat, pasien selamat.
  • Jika pelayanan cepat dan komunikasinya baik, pasien puas.
  • Jika pelayanan konsisten, reputasi rumah sakit tumbuh.

Dengan kata lain:

Mutu = pelayanan yang membuat pasien selamat + puas + percaya + mau kembali.

Definisi Mutu Berdasarkan Teori

1. WHO

Mutu adalah pelayanan kesehatan yang: efektif; efisien; aman; tepat waktu; berfokus pada pasien; berkeadilan.

2. Institute of Medicine (IOM)

Mutu dibangun oleh 6 pilar:

  • Safe – mengurangi risiko cedera pada pasien.
  • Effective – pelayanan sesuai bukti ilmiah.
  • Patient-centered – menghargai nilai dan preferensi pasien.
  • Timely – mengurangi keterlambatan.
  • Efficient – meminimalkan pemborosan.
  • Equitable – pelayanan adil untuk semua pasien.

3. Donabedian Model

Mutu dihasilkan oleh hubungan tiga elemen:

  • Structure – SDM, sarana, regulasi, SOP.
  • Process – cara kerja sehari-hari.
  • Outcome – hasil klinis dan pengalaman pasien.

Kesimpulan teori: Mutu adalah perpaduan antara struktur yang kuat, proses yang konsisten, dan outcome yang dapat diprediksi.

Dimensi Mutu dalam Aktivitas Sehari-hari Rumah Sakit

Berikut gambaran paling nyata bagaimana dimensi mutu muncul dalam praktik harian di rumah sakit:

1. Keselamatan Pasien (Patient Safety)

Risiko salah pemberian obat jika LASA tidak dilabeli dengan jelas. Risiko salah lokasi operasi jika checklist tidak dijalankan. Infeksi HAIs meningkat karena hand hygiene tidak konsisten.

2. Efektivitas (Effectiveness)

Pemilihan antibiotik tidak mengikuti panduan → resistensi meningkat.

Terapi tidak tepat menyebabkan LOS lebih panjang dan biaya membengkak.

3. Efisiensi (Efficiency)

Antrian panjang karena triase lambat atau proses administrasi berulang. Banyak pemeriksaan ganda akibat komunikasi buruk antar profesi.

4. Ketepatan Waktu (Timeliness)

Visite tidak terjadwal dengan baik sehingga keputusan klinis tertunda.Hasil lab terlambat keluar, menunda tindakan medis.

5. Pelayanan Berfokus pada Pasien (Patient-centeredness)

Edukasi tidak seragam, pasien bingung dan tidak percaya pada RS.Komunikasi yang tidak empatik memicu komplain.

6. Keadilan (Equity)

Pasien BPJS kadang diperlakukan berbeda dari pasien umum. Akses layanan tertentu terhambat karena bias administrasi.

Dimensi ini menunjukkan bahwa mutu adalah perilaku dan proses, bukan hanya dokumen atau regulasi.

Cara Praktis & Riil Meningkatkan Mutu Rumah Sakit

Mutu tidak naik hanya dengan membuat komite mutu, menambah SPO, atau menggelar workshop. Mutu naik ketika proses kerja sederhana dijalankan dengan konsisten oleh setiap orang, setiap hari.

Berikut langkah perbaikan mutu yang benar-benar bisa diterapkan di semua tipe rumah sakit:

1. Terapkan Daily Management System (DMS)

Ini adalah game changer. DMS memastikan masalah kecil tidak menumpuk menjadi masalah besar.

Yang dilakukan setiap unit:

  • Briefing 10 menit setiap pagi

Review: masalah kemarin – risiko hari ini – rencana aksi cepat dan Catat di visual board (bisa kertas sederhana)

Output: perbaikan harian yang nyata, tidak menunggu rapat mutu bulanan.

2. Standarisasi 5–7 Proses Kritis yang Paling Banyak Menyebabkan Error

Contoh proses yang wajib distandarisasi:

  • Penerimaan–penyimpanan–penyerahan obat high alert
  • Alur IGD → rawat inap
  • Alur transfusi darah
  • Pencegahan infeksi luka operasi
  • Discharge planning
  • Komunikasi antar unit
  • Pelaporan insiden keselamatan pasien
  • Jangan terlalu banyak SOP — fokus pada proses high-risk, high-volume, problem-prone.

3. Lakukan Leadership Walkaround yang Benar (Bukan Sidak)

Walkaround dilakukan untuk:

  • Melihat risiko keselamatan langsung di lapangan
  • Mendengarkan hambatan staf
  • Mempercepat penyelesaian masalah dalam ≤72 jam

Walkaround yang benar membangun budaya trust, safety, dan akuntabilitas, bukan ketakutan.

4. Gunakan Checklist untuk Mengurangi Variasi Kerja

Checklist adalah alat yang membawa disiplin.

Checklist wajib:

  • IGD (triase, pemberian obat, resusitasi)
  • Operasi (WHO SSC)
  • Transfer pasien antar unit
  • Discharge planning
  • Penanganan obat high alert

Checklist meningkatkan konsistensi → konsistensi menghasilkan mutu.

5. Monitoring Indikator Mutu yang Sedikit tetapi Bernilai Tinggi

Rumah sakit tidak perlu 40 indikator. Cukup indikator yang berdampak:

  • BOR & LOS
  • Waktu tunggu IGD
  • Medication error
  • Infeksi terkait pelayanan
  • Kepuasan pasien

Setiap indikator harus disertai: apa perbaikan 7 hari ke depan?

Tanpa aksi → indikator hanyalah angka.

6. Bangun Budaya “No Blame” tetapi “Clear Accountability”

Staf harus aman melapor insiden, tetapi tetap bertanggung jawab.

Prinsipnya:

  • Human error → perbaiki system
  • At-risk behavior → coaching
  • Reckless behavior → tindakan disiplin

Budaya ini memastikan mutu meningkat tanpa membunuh motivasi staf.

7. Latih Komunikasi Efektif di Semua Lini

Komunikasi buruk adalah akar komplain dan kesalahan klinis.

Wajib diterapkan:

  • SBAR untuk serah terima
  • Teach-back untuk edukasi pasien
  • Empati 3 detik (micro empathy)

Perubahan mutu kadang hanya perlu perubahan cara berbicara.

8. Quick-win Mutu dalam 30 Hari

Mutu harus terlihat dan terasa, bukan hanya terdengar.

Contoh quick-win:

  • Mengurangi waktu tunggu dengan menambah perawat triase per shift
  • Menstandarkan label LASA seluruh instalasi
  • Meningkatkan discharge sebelum pukul 12.00
  • Mempercepat hasil lab dengan mengurangi langkah manual

Quick-win membangun kepercayaan staf dan pasien bahwa perubahan sedang terjadi.

Kesimpulan

Mutu rumah sakit bukan proyek dokumentasi, bukan pula pekerjaan komite mutu semata. Mutu adalah cara berpikir dan cara bekerja yang diulang setiap hari oleh semua orang. Rumah sakit dapat meningkatkan mutu secara signifikan ketika: masalah nyata di lapangan diakui secara jujur, proses kritis distandarisasi, pemimpin hadir di lapangan, indikator fokus pada hal yang berdampak, budaya keselamatan dibangun dengan kesadaran, bukan ketakutan, komunikasi menjadi fondasi pelayanan.

Dengan pendekatan ini, mutu rumah sakit menjadi riil, terukur, dan berkelanjutan — bukan sekadar slogan atau persiapan akreditasi.

Posted in

Leave a comment